Kisah Si Penjaja Koran


Bagikan:Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedInPin on PinterestShare on Tumblr

Pagi itu seorang penjaja koran sedang berteduh di sebuah emperan toko. Sejak subuh hujan yang turun cukup deras, membuatnya tidak bisa menjajakan korannya.

Terbayang di benakku, tidak ada satu sen pun  uang yang akan ia peroleh kalau hari terus hujan. Namun, kegalauan yang kurasakan ternyata tidak tampak sedikitpun di wajahnya.

Hujan masih terus saja turun. Si penjaja koran pun tetap duduk di emperan toko sambil tangannya memegang sesuatu. Tampaknya seperti sebuah buku. Kuperhatikan dari kejauhan, lembar demi lembar ia baca. Awalnya aku tidak tahu apa yang sedang ia baca. Namun saat kudekati, ternyata ada sebuah Al -Quran di tangannya.

“Assalamu’alaikum Wr. Wb”
“Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh”
“Bagaimana jualan korannya, Mas.”
“Alhamdulillah, sudah selembar yang terjual.”
“Wah susah juga ya jualannya kalau hujan begini.”
“Insya Allah ada rizkinya.”
“Terus, kalau hujannya sampai sore?”
“Itu artinya rizki saya bukan jualan koran, tapi banyak berdoa.”
“Kenapa?”
“Kata Rasulullah SAW, saat hujan adalah saat mustajab untuk berdoa. Punya kesempatan berdoa, juga rizki namanya.” 
“Lantas, kalau tidak dapat uang?”
“Berarti rizki saya bersabar”
“Kalau tidak bisa beli nasi untuk makan.”
“Berarti rizki saya berpuasa”
“Kenapa Mas bisa berpikir seperti itu?” Tanyaku lagi.
“Allah SWT yang memberi rizki. Apa saja rizki yang diberikan-Nya saya syukuri. 

Selama saya jualan koran, meskipun tidak laku, saya tidak pernah kelaparan. Pernah suatu hari, koran saya tidak selembarpun terjual. Saya pun tidak punya uang untuk
makan. Saya puasa saja. Alhamdulillah, mendekati waktu Maghrib ada tetangga yang bawain makanan. Saya makan secukupnya saja. Biar ada tenaga untuk sholat dan ibadah lainnya.”

Hujan reda. Si penjaja koran bersiap-siap untuk berjualan. Ia pamit sambil memasukkan Al-Quran ke dalam tas gendongnya.

Aku termenung menyimaki kalimat-kalimat tausiah yang diucapkannya. Ada penyesalan di dalam hati. Kenapa kalau hujan aku masih resah-gelisah. Khawatir tidak dapat uang, khawatir rumahku terendam banjir, khawatir tidak bisa bertemu orang-orang seprofesi. Kusadari, rizki bukan semata uang. Bisa bersabar, bisa berpuasa, bisa berdoa, bisa beribadah adalah juga rizki dari Allah SWT. Rizki hidayah dan bisa bersyukur adalah jauh lebih bermakna daripada uang.

Nikmatnya Berbagi Informasi dari Group Sebelah.

Selamat beraktifitas 🙂